Jakmania Memulai Pesan Damai, Bobotoh Dinanti

 Rabu, 04/09/2019 16:15 WIB

Jakmania Memulai Pesan Damai, Bobotoh Dinanti

The Jakmania sudah memulai pesan damai dengan tindakan nyata, giliran menanti respons Bobotoh. (AFP PHOTO / TIMUR MATAHARI)Jakarta, Cita-cita bersama mewujudkan perdamaian antarsuporter sepak bola Indonesia, termasuk di Liga 1, tak semestinya hanya sebatas kata-kata.

Setidaknya demikian yang diupayakan The Jakmania. Pendukung Persija Jakarta itu mencoba membuktikan keinginan kuat menghentikan kekerasan antarsuporter bukan sekadar jargon.

Baru-baru ini Kepala Bidang Koordinator Lapangan Jakmania, Ahmad Syarief, mengungkapkan pihaknya melindungi Bobotoh penyusup pada laga Persija vs Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Rabu (10/7). 

Total ada sekitar 10 suporter di tribune GBK yang disebut Ahmad dicurigai merupakan para fan Persib. Sebagai antisipasi, ia dan para Korlap Jakmania — total 64 Korlap — menyebar ke setiap sudut tribune untuk melakukan sweeping di sektor yang dicurigai terdapat Bobotoh.

Suasana laga di GBK saat Persija menjamu Persib.

Tentu sweeping dalam pengertian yang positif. Mereka menjalankan misi melindungi fan klub rival ibu kota itu dari potensi kekerasan oleh para Jakmania lainnya di GBK.

“Kami tidak mau besar kepala, banyak yang respek dengan kami. Ini bisa jadi bahan [pembelajaran] suporter yang lain. Tapi banyak orang juga yang masih mencibir, saya tidak ambil pusing,” kata pria yang akrab disapa Aspal .

“Yang penting, kami sudah melakukan yang terbaik dan berusaha untuk menjunjung perdamaian. Ini akan jadi contoh mendatang, dunia kerusuhan suporter berakhir.”

Ahmad mengakui cara-cara yang dilakukan mereka untuk melakukan pengamanan tersebut memang tidak mudah. Terlebih dalam mengidentifikasi suporter yang dicurigai sebagai Bobotoh.

Mereka lantas berusaha sepintar mungkin untuk mengidentifikasi fan-fan yang dicurigai berasal dari kubu ‘seberang’.

Sejumlah Jakmania bersantai jelang laga Persija vs Persib di GBK.

“Pengamatan saya, biasanya teman-teman Korlap melihat dari suporter lawan yang diam-diam nonton itu dari gerakan, reflek, dan tidak aktif,” ujar Ahmad.

“Jadi ketika berlaga, kalau ada satu atau dua orang tidak senada, ya sudah pasti [penyusup]. Mereka biasanya kalau Persija sedang membangun serangan, malah lihat ponsel. Jadi sudah kelihatan. Lima sampai 10 menit jelang pertandingan berakhir, kami sudah bergerilya.”

Kejelian dan pengalamannya sebagai suporter menjadi kunci bagi mereka dalam mengenali sesama pendukung klub sepak bola.

“Kalau ditanya, ‘Kok bisa tahu itu suporter lawan? Bagaimana caranya membedakan dengan orang biasa atau netral?’ Jawabannya ya naluri suporter biasanya yang begitu,” tutur dia.

“Kalau suporter asli, pasti akan bersorak. Yang mengerti suporter ya hanya suporter. Nah, refleknya dia ketika timnya dia gagal menyerang.”

Upaya itu yang sejatinya menjadi pesan damai demi mengikis habis kekerasan antarsuporter. Cara-cara antisipatif secara kolektif ini pula yang juga sangat diharapkan dari para Bobotoh melalui komunitas suporter seperti Viking dan Bomber untuk memulai hal yang sama.

Ketua Viking Persib Club, Herru Joko, sebagai salah satu representasi Bobotoh secara terbuka memuji sikap Jakmania tersebut. Sudah saatnya pula mereka menyambut inisiatif para pendukung Macan Kemayoran dengan balasan setimpal.

“Senang [tidak ada keributan], hebat. Apresiasi tinggi buat Jakmania, buat Korlapnya [Koordinator Lapangan], Ketuanya, semuanya terima kasih,” ucap Herru melalui sambungan telepon kepada

Membunuh Kredo Hebat karena Nekat

Ahmad dan kawan-kawan sepertinya sadar betul, imbauan agar suporter tim rival tidak ke GBK tak sepenuhnya efektif.

Tetap saja ada kebocoran. Sejumlah suporter fanatik klub lawan masih memaksa datang ke markas tim lawan dalam sebuah pertandingan.

Jakmania juga belajar dari kasus Haringga Sirla, salah satu anggota yang meninggal karena dikeroyok para oknum Bobotoh.

Rekonstruksi penyerangan terhadap anggota Jakmania Haringga Sirla oleh para tersangka di GBLA. (Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Haringga tertangkap tangan para Bobotoh bahwa ia berasal dari Jakarta setelah memeriksa Kartu Tanda Penduduk (KTP) di areal parkir Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada laga Persib vs Persija di Liga 1, September 2017. Almarhum langsung diserang para tersangka hingga tewas. Belajar dari insiden itu pula Jakmania berusaha mengantisipasi situasi yang sama seperti di Bandung.

Hebat karena nekat, begitu kira-kira nilai-nilai yang terbentuk, seolah menjadi semacam inisiasi untuk menjadi suporter sejati.

Suporter sejati itu mereka yang rela menyambut maut sekali pun demi klub kesayangan. Nilai-nilai sarat kekerasan ini pula yang pada akhirnya menjadi salah satu penguat identitas menjadi suporter fanatik, terutama di barisan garis keras.

Mengutip dari Antropolog simbolisme dan interpretatif, Arnold van Gennep, ajang uji nyali itu jadi semacamrites of passage atau inisiasi dalam kehidupan para suporter. 

Gejala maskulinitas di antara para suporter yang notabene rata-rata belia ini juga pernah diulas oleh ahli Gender dan Fenimisme, David Plummer dan Stephen Geofroy dalam essay: When Bad is Cool: Violence and Crime as Rites of Passage to Manhood.

Menjadi nakal ,menjadi terlihat keren dan ‘laki-laki banget’. Tidak menggubris imbauan agar tidak nekat ke stadion demi mencegah jatuh korban jiwa jadi sesuatu yang hebat.

Acara nonton bareng atau nobar Persija Jakarta vs Persib Bandung yang digelar Polrestabes Bandung dipindah ke Lapangan Gasibu, Rabu (10/7/2019). (CNN Indonesia/Huyogo)

Peran peer group atau sekumpulan pertemanan menjadi wadah utama berbagi nilai-nilai bagi anak-anak muda menggeser peran keluarga misalnya. Situasi ekonomi dan sosial tertentu menjadikan tekanan bagi orang-orang dewasa yang biasanya berperan sentral menularkan nilai-nilai, sehingga perannya tak penting lagi bagi para remaja tersebut.

Nilai-nilai maskulinitas dan budaya kekerasan itu pula yang kerap dibagikan di antara para remaja. Menjadi keren dengan cara uji kejantanan itu pula yang menjadi nilai yang diterima bersama dalam peer group.

Imbauan dan pesan-pesan simbolik semata apalagi yang sifatnya elitis tidak menyentuh ke akar rumput. Itulah sebabnya silaturahmi atau jambore antarsuporter yang pernah dilakukan tidak benar-benar menghentikan kekerasan para suporter sepak bola,

Tak ada pilihan selain dari akar rumput yang sepatutnya memulai mengikis nilai-nilai kekerasan tersebut di antara para suporter. 

Ketua Umum Jakmania Ferry Indrasjarief pernah melontarkan pernyataan yang cukup menarik untuk direnungkan.

Perdamaian dan harmonisasi antarsuporter tak akan bisa tercipta jika hanya sebatas jargon. Dia selalu menekankan cita-cita bersama itu bisa diwujudkan dengan melakukan hal-hal natural.

Ferry meyakinkan tidak terlalu perlu upaya-upaya seremonial semacam jambore dan lain sebagainya demi mengikis budaya kekerasan. 

Biarkan upaya-upaya sederhana terus dipertahankan di level yang lebih nyata secara natural. Usaha kolektif yang dilakukan para Korlap Jakmania dalam melindungi para Bobotoh di GBK merupakan perwujudan dari manifestasi itu.

Ketua The Jakmania Ferry Indrasjarief.

Pada gilirannya, nekat tidak lagi hebat. Memberi manfaat demi mencegah kekerasan yang justru hebat. Pesan itu coba ditularkan melalui upaya Ahmad Syarief dan kawan-kawan di lapangan.

Ibarat koreo suporter di tribune, Persija sudah memulai ‘Mexican Wave’. Giliran Bobotoh yang melanjutkan sehingga menjalar ke semua kelompok suporter.

Kenapa Bobotoh? Karena mereka termasuk salah satu basis fan besar dan mendarah daging di sepak bola tanah air. Mereka bisa menjadi role model di antara kelompok suporter lainnya.

Kedua, perseteruan Jakmania dan para Bobotoh yang kerap menjadi sorotan. Semangat damai di antara mereka yang bisa menjadi contoh baik kepada para suporter lainnya.

Tak ada dendam dengan kasus kematian Haringga Sirla. Sebaliknya, Jakmania justru sudah memulai pesan damai melalui tindakan nyata melindungi Bobotoh di GBK.

Lamun Bobotoh kumaha

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20190712154416-143-411622/jakmania-memulai-pesan-damai-bobotoh-dinanti

Comments are closed.