Honda ADV 150: ‘Wajah Rambo tapi Hati Rinto’

Senin, 02/09/2019 15:13 WIB

Honda ADV 150: 'Wajah Rambo tapi Hati Rinto'

Touring menggunakan Honda ADV 150 pertama di dunia. (Dok. Astra Honda Motor)Jakarta. Honda ADV 150 diserahkan ke jurnalis untuk diuji coba dalam gelaran World Premiere Riding Experience yang digelar Astra Honda Motor (AHM) di Bali pada 8-9 Agustus. Lokasi acara punya lintasan panjang dan cukup waktu buat mendapatkan pengalaman lebih serius mengendarai skuter matik (skutik).

ADV 150 merupakan formula baru dari Honda buat menanggapi pasar skuter matik (skutik) yang berubah cepat dan ketagihan hal-hal baru. Indonesia dijadikan lokasi tes pasar, bila sukses bukan tidak mungkin ADV 150 bakalan menggelinding di negara lain.

Desain skutik ini banyak terinspirasi motor besar (moge) X-ADV 750 yang meluncur di Indonesia pada April 2019 dengan harga Rp450 jutaan. Saat ADV 150 diluncurkan di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019, banyak mata terbuka lebar sambil menyadari bahwa Honda lagi menyiapkan klan baru skutik petualang yang bisa jadi belum berakhir di pilihan mesin 150 cc.

Walau mesinnya jauh lebih kecil ketimbang X-ADV 750, desain ADV 150 dikemas serius dan punya kesan bisa bergaul lebih akrab sama CRF150L ketimbang Beat Street. 

Satu hal yang mesti dipahami ADV 150 punya platform dan mesin yang mirip PCX 150. Bisa dikatakan ADV 150 merupakan variasi desain keempat PCX 150 setelah versi hybrid dan listrik muncul pada tahun lalu.

Skutik yang dijual mulai Rp33,5 juta ini juga punya berbagai elemen penunjang yang mendukung konsep skutik petualang, misalnya instrument cluster bergaya moge petualang, tameng angin yang bisa diatur naik-turun manual, dan ban semi dual purpose.

Fitur-fitur itu berguna saat touring di rute sejauh 254 km yang disediakan AHM dengan estimasi total perjalanan ditempuh lebih dari lima jam. Rute yang dipilih start dari Kuta lantas mengarah ke tengah, area perbukitan di Pulau Bali, sampai akhirnya kembali ke Kuta.

Honda ADV 150. (Dok. Astra Honda Motor)

Bila dipandangi, ADV 150 mungkin punya kesan berukuran besar -dimensi sebenarnya panjang 1,95 m, tinggi 1,153 m, dan lebarnya 763 cm. Meski begitu menaiki motor dengan tinggi jok 795 cm ini tak begitu sulit buat seseorang pengendara tinggi badan 168 cm. 

Setelah di atas motor, sebagian telapak kaki jinjit, namun bisa menapak sepenuhnya bila posisi duduk sedikit maju ke depan jok. Jok di bagian depan didesain menyempit jadi bikin kedua kaki tidak terbuka terlampau lebar.

Posisi berkendara seperti itu membantu mengontrol bodi motor waktu macet yang bikin kaki sering turun sampai ke aspal. 

Posisi berkendara di ADV 150 tidak bisa santai sampai selonjoran seperti PCX 150. Ruang kakinya terbilang tidak terlalu lebar, jadi buat yang ingin berdiri waktu lagi melintasi jalan rusak mesti waspada sama hal itu.

Di antara kerumunan motor lain waktu macet, ADV 150 terlihat dominan karena posturnya yang tinggi. Setang fat bar lebar yang dipegang biker desainnya mirip motor trail, komponen ini bikin enteng manuver namun perlu waktu buat adaptasi sebab saya sendiri belum pernah merasakan sensasi membawa skutik jangkung, pakai ‘ban tahu’, dan setang lebar.

Menurut saya setidaknya ada dua hal yang bisa diapresiasi soal desain ADV 150, pertama suara mesinnya halus dan suspensi tidak ada mentoknya. Suara mesin yang sunyi juga didukung ACG Starter yang bikin menyalakan mesin terasa elegan sebab suaranya minim. Knalpot juga mampu meredam suara dengan baik.

Honda ADV 150. (CNN Indonesia/Febri Ardani)

Soal suspensi, ADV memakai tipe telescopic di depan yang travel-nya lebih panjang dari PCX 150. Sedangkan di belakang menggunakan suspensi ganda tipe subtank.

Selama satu jam awal berkendara, impresi awal saya merasa kombinasi suspensi itu terasa keras, terutama pada bagian belakang. Namun usai beberapa jam berkendara yang terasa justru beda. 

Setelah berbagai macam bentuk lobang dan jalanan rusak yang diinjak, suspensi itu tak pernah bunyi ‘duk’ yang artinya sudah mentok dan berarti hantaman jalan terlalu berat. Suspensi mentok seperti sering kedapatan di skutik kecil, hal itu sanggup bikin tangan cepat capek atau malah jadi awal kecelakaan.

Belakangan saya sadar, yang keras bukan suspensi melainkan jok, terutama pada bagian yang didesain seperti sandaran tulang ekor sekaligus yang jadi pemisah antara bagian jok pengendara dan penumpang.

Satu hal lagi yang saya kurang suka, yakni pencahayaan instrument cluster digital. Saat matahari lagi terik di atas kepala, informasi yang ditampilkan bisa tidak terlihat sepenuhnya karena buram atau berbayang. 

Padahal informasi yang disajikan lumayan lengkap, mulai dari tanggal, jam, konsumsi bahan bakar (langsung atau rata-rata), dua trip meter, tegangan baterai, dan bahkan ada indikator temperatur yang berguna buat menganalisa lingkungan sekitar misalnya saat perjalanan di area pegunungan atau hujan. Sebenarnya ada solusi buat hal ini, instrument cluster itu punya pengaturan seberapa terang layar ingin ditampilkan.

Mesin

Berdasarkan klaim AHM, tenaga mesin ADV 150 lebih kecil dibanding PCX 150, namun torsinya lebih besar. Perbedaan itu sebenarnya tidak terasa, bahkan bisa dikatakan karakternya mirip dengan beberapa poin pembeda.

Alih-alih tenaganya meluap-luap sejak start, karakter mesin ADV 150 justru malah anteng di segala kondisi. Saya merasa motor ini terasa paling bertenaga pada kecepatan sedang, 30 kpj sampai 60 kpj. Pada posisi itu, mengail torsi ketika kecepatan drop masih bisa didapatkan cepat misalnya saat ingin mendahului kendaraan lain.

Di atas 80 kpj, mesin mulai kehabisan napas di trek lurus panjang. Cukup butuh waktu lama buat menembus kecepatan 100 kpj sampai akhirnya mentok di 116 kpj.

Saya pikir ini satu lagi kekurangan mesin ADV 150 atau PCX 150 ketimbang Aerox 155 atau Nmax. Pada kedua skutik Yamaha itu sudah dibekali teknologi Variable Valve Actuation (VVA) yang bisa memenuhi kebutuhan tenaga lebih besar di putaran atas.

Kesimpulan

Buat sebagian orang, touring pada akhir pekan setelah penat sepekan bekerja merupakan kebutuhan yang menyegarkan. Seseorang tak perlu sampai beli dua motor agar bisa memenuhi kebutuhan itu sebab satu motor seperti ADV 150 bisa jadi sudah cukup buat dipakai ke tempat kerja sehari-hari lalu ‘gas tipis-tipis’ ke luar kota pada Sabtu dan Minggu.

Selain itu ADV 150 juga merupakan personifikasi skutik macho yang menawarkan sesuatu kekinian, ini juga bisa jadi bahan dasar pemilihan konsumen impulsif yang tidak terlalu terkait dengan kebutuhan sebenarnya. Penempatan banderol ADV 150 yang cuma lebih mahal sekitar Rp1,5 juta dari PCX 150 mendukung hal itu.

Sumber :

Comments are closed.