Mengulas Patung Bambu Dewi Sri, Ikon Wisata di Desa Jatiluwih, Bali

 25 Juli 2019 16:47 WIB

https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 24 406 2083232 mengulas-patung-bambu-dewi-sri-ikon-wisata-di-desa-jatiluwih-bali-V2wRztcCZh.jpg

Patung Dewi Sri di Bali (Foto: Instagram )

PRO dan kontra instalasi bambu Getah Getih yang diinisiasi oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, berhasil menarik perhatian sejumlah kalangan. Bahkan, instalasi senilai Rp550 juta itu sempat dibanding-bandingkan dengan Patung Dewi Sri yang terletak di Jatiluwih, Tabanan, Bali.

Pada hakikatnya, nilai seni memang tidak bisa dihidung dari anggaran atau biaya yang dikeluarkan untuk membuat karya itu sendiri. Sejumlah netizen pun sepakat dengan pola pikir tersebut. Namun, kemunculan Patung Dewi Sri di Desa Jatiluwih, Bali justru membuka perspektif baru di tengah masyarakat bahwa, industri seni Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan lebih jauh.

Tidak ada yang menyangka, Patung Dewi Sri karya I Gusti Ngurah Udianata hanya menelan biaya Rp25 juta. Proses pembuatannya pun terbilang cepat, hanya memakan waktu sekitar 1,5 bulan dengan menggunakan sekitar 500 batang bambu.

Patung bambu Dewi Sri

Kepada Okezone, Manager Operasional Daya Tarik Wisata Jatiluwih, I Nengah Sutirtayasa, mengatakan patung tersebut sebetulnya sudah jadi pada awal Juli lalu.

“Patung Dewi Sri itu sengaja kami buat sebagai ikon Jatiluwih Festival yang akan berlangsung pada 20-22 September mendatang. Lokasi patungnya sendiri berada di tengah objek wisata atau center point DTW dengan latar belakang terasering sawah yang eksotis,” tutur I Nengah Sutirtayasa, saat dihubungi via sambungan telepon.

Sutirtayasa mengatakan, pemilihan Patung Dewi Sri juga tidak terlepas dari filosofi dan konsep festival yang mereka usung. Seperti diketahui, menurut kepercayaan Hindu, Dewi Sri dikenal sebagai dewi kesuburan di Pulau Jawa dan Bali.

Ia dipercaya sebagai dewi yang menguasai ranah dunia bawah tanah juga bulan. Perannya mencakup segala aspek Dewi Ibu, yakni sebagai pelindung kelahiran dan kehidupan.

Ia dapat mengendalikan bahan makanan di bumi terutama padi, bahan makanan pokok masyarakat Indonesia. Ia juga mengatur kehidupan, kekayaan, dan kemakmuran. Berkahnya terutama panen padi yang berlimpah dan dimuliakan sejak masa kerajaan kuno di pulau Jawa seperti Majapahit dan Pajajaran.

Sementara untuk alasan penggunaan bambu sebagai bahan utama patung, Sutirtayasa mengatakan bahwa Desa Jatiluwih selama ini juga dikenal sebagai salah satu produsen bambu terbaik di Bali.

“Saat ini bambu yang dijual masih gelondongan. Dengan adanya patung ini, kami berharap agar warga terinspirasi dan mulai tertarik untuk berinovasi memanfaatkan sumber daya yang mereka miliki. Jadi kedepannya kita tidak lagi menjual bambu gelondongan saja, tetapi sudah menjadi produk lain yang lebih bernilai,” tukasnya.

Sumber: https://lifestyle.okezone.com/read/2019/07/24/406/2083232/mengulas-patung-bambu-dewi-sri-ikon-wisata-di-desa-jatiluwih-bali?page=2

Comments are closed.