Sering Sebar Hoax Tapi Tak Menyadarinya Bisa Jadi Idap Penyakit Mitomania, Ini Penjelasannya

Sering Sebar Hoax Tapi Tak Menyadarinya Bisa Jadi Idap Penyakit Mitomania, Ini Penjelasannya

Sumber: http://www.tribunnews.com/lifestyle/2018/10/04/sering-sebar-hoax-tapi-tak-menyadarinya-bisa-jadi-idap-penyakit-mitomania-ini-penjelasannya?page=all

Maraknya berita hoax atau berita bohong yang beredar di media massa akhir-akhir ini cukup meresahkan kita semua.

Pasalnya, banyak berita bohong yang disebarkan dengan maksud-maksud tertentu yang justru bisa berimbas buruk pada lingkungan sekitar.

Terkait berbohong, ada sebagian orang yang mungkin berbohong tanpa ia sadari. Kok bisa?

Rupanya ada penyakit patologis yang membuat penderitanya hobi berbohong dan tidak sadar bahwa sebenarnya ia tengah berbohong.

Penyakit ini disebut dengan mitomania.

Mitomania adalah gangguan yang membuat penderitanya berbohong tanpa sadar dan tanpa tujuan untuk menipu.

Dalam ilmu psikologi, istilah mitomania diberikan kepada orang yang sering berbohong dan menganggap kebohongan yang dilakukannya adalah nyata.

Ini tentu berbeda dengan kebohongan biasa, karena penderita tidak sadar ia tengah berbohong karena ia menceritakan khayalan yang ada di kepalanya saja.

Orang seperti ini tidak merasa berbohong itu adalah sebuah kesalahan dan berefek buruk bagi dirinya dan orang lain.

Baginya, yang penting orang lain mendengarkan dan mengakui cerita yang dibuat-buat olehnya.

Ia bahkan tidak merasa bersalah dengan kebohongan itu, karena ‘kebohongannya’ merupakan caranya untuk lari dari kenyataan yang ditolaknya.

Asal muasal gangguan ini adalah kegagalan-kegagalan yang tidak dapat ditanggung oleh orang tersebut.

Dirinya terlalu lemah untuk menerima kejatuhan dan kegagalan.

Kegagalan keluarga, studi, pekerjaan, asmara, dan masalah hidup lainnya menjadi penyebab gangguan ini.

Mitomania adalah caranya untuk melarikan diri dari kenyataan sebenarnya.

Semakin orang lain percaya dengan kebohongannya, ia merasa lega karena ‘kenyataan’ yang sulit diterimanya itu terasa berkurang.

Mitomania sering pula disebut pembohong patologis, ia memang cenderung terdorong dan terbiasa untuk berbohong.

Namanya juga berbohong. Kebohongan yang satu akan menghasilkan kebohongan-kebohongan lainnya.

Ketika ketahuan bisa repot urusannya. Kita akan salah tingkah dan malu jika ketahuan berbohong.

Tapi berbeda dengan seorang mitomania, ia memang pembohong ulung yang dapat memutarbalikkan cerita hingga akhirnya kita percaya kepada kebohongannya yang lain.

Ia sangat lihai membuat kita terkesan dan percaya pada cerita positifnya.

Buruknya, kebohongannya itu berakibat tidak baik bagi orang yang dibohongi.

Cerita-cerita bohongnya malah mengganggu kepercayaan dan keyakinan pribadi kita.

Bahkan keteguhan kita bisa goyah dan mempercayai cerita baru yang dikarangnya.

Ketika kita sadar bahwa kita telah dibohongi dan mengonfrontasinya, ia akan mengelak dengan kemarahan.

Lalu akan mulai berbohong lagi, dan memanipulasi cerita lagi.

Semakin ia tersudut, ia akan mulai cerita berbelit-belit dengan cerita baru alias ngeles.

Semakin ia sadar ia berbohong, ia akan semakin menjadi-jadi.

Seorang mitomania adalah korban. Ia korban dari kenyataan hidup dan penderitaan yang tidak bisa diterimanya.

Bisa dibilang orang ini memakai topeng.

Walau sering ketahuan berbohong, para pengidap Mitomania justr tidak mau mengaku dan malah memanipulasi semuanya.

Orang dengan gangguan mitomania yang parah hanya bisa dibantu oleh ahli kejiwaan.

Tenang saja, dengan penanganan yang tepat oleh ahli jiwa, mitomania bisa dikurangi bahkan bisa disembuhkan juga.

Comments are closed.