Sepak Bola Penuh Risiko ala Roberto Martinez

Sepak Bola Penuh Risiko ala Roberto Martinez

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20180710012158-142-312841/sepak-bola-penuh-risiko-ala-roberto-martinez

 

Keputusan Federasi Sepak Bola Belgia memilih Roberto Martinez di antara kandidat pelatih lainnya kini terbukti berbuah manis. Pria 44 tahun itu mengantarkan The Red Devils menembus semifinal Piala Dunia 2018.

Belgia pada Selasa (10/7) ini akan berhadapan dengan Prancis di Stadion Saint Petersburg.

Martinez dikontrak pada 2016 silam setelah Belgia yang disebut-sebut memiliki generasi emas gagal di Piala Eropa. Kala itu Belgia tersingkir di perempat final karena kalah 1-3 dari Wales.

Perekrutan Martinez ini sempat menimbulkan keheranan. Bukan hanya karena ia tak memiliki rekam jejak di sepak bola internasional, Martinez juga baru mengakhiri musim yang semenjana dengan Everton, dua tahun terakhir finis di posisi 11 klasemen Liga Inggris.

Pria asal Spanyol itu dikritik selalu gagal mendapatkan keseimbangan antara lini serang dan lini bertahan di Everton. The Toffees memang mencetak banyak gol, tapi acap kali kebobolan gol-gol yang seharusnya bisa mereka hentikan.

Sebagai pelatih, Martinez sendiri sangat mengidolakan kompatriotnya sendiri, Pep Guardiola. Keduanya memiliki gairah yang sama pada sepak bola indah, khususnya yang menitikberatkan penguasaan bola

Gaya bermain seperti ini sempat membuat Martinez mendapat banyak pujian ketika ia melatih di Wigan dan Swansea. Bahkan, bersama Wigan ia pernah membawa mereka memenangi Piala FA 2013. Ironisnya, di musim yang sama saat ia meraih gelar tersebut, Wigan juga terdegradasi ke divisi bawah.

“Saya meyakini sepak bola harus dimainkan dengan cara tertentu,” ujar Martinez pada 2016 silam soal filosofinya dalam membentuk tim.

“Mengambil risiko, menguasai bola, dan mengandalkan bakat-bakat pemain untuk mencetak gol, ketimbang bertumpu pada situasi bola mati dan mempertahankan clean sheet.”

Saking alerginya pada gaya sepak bola yang monoton dan lebih mementingkan hasil, Martinez bahkan secara terang-terangan menyebut kesebelasan yang berprinsip demikian sebagai “parasit”.

Belgia Tim Terproduktif

Sampai batas tertentu, gaya bermain seperti itu pula yang ia bawa ke Belgia. Apalagi di tangannya terdapat pemain-pemain kreatif seperti Eden Hazard, Kevin De Bruyne, atau Dries Mertens. Potensi mereka lah yang lebih dititikberatkan oleh Martinez.

Tak heran jika Belgia lolos kualifikasi Piala Dunia 2018 dengan mencatatkan rekor sebagai tim tersubur yaitu mengoleksi 43 gol dari sembian kemenangan.

Hal ini mereka teruskan di putaran final. Dalam lima pertandingan yang telah mereka jalani, De Bruyne dan kawan-kawan telah menciptakan 14 gol dan menjadi tim tersubur. Sebagai catatan tambahan, ada sembilan pemain Belgia yang sudah mencetak gol, membuktikan ancaman bagi lawan-lawannya bisa datang dari mana saja.

Belgia juga jadi satu-satunya tim tersisa yang selalu memenangi setiap pertandingan.

Salah satu racikan Martinez yang membuat hal ini bisa tercipta adalah penempatan Kevin De Bruyne. Sang pelatih mengubah posisi De Bruyne dari semula sebagai penopang ujung tombak seperti di Manchester City, menjadi bermain lebih ke dalam.

De Bruyne pun diduetkan dengan Axel Witsel dalam formasi 3-4-3.

Martinez memilih formasi ini karena ingin memanfaatkan kemampuan De Bruyne dalam mengirimkan umpan-umpan panjang.

“Ketika Anda menempatkan Kevin pada posisi ketika ia bisa mengirimkan umpan lambung, Anda bisa memiliki lima pemain di depan yang menjadi targetnya. Kevin adalah playmaker modern dan kami mendapat keuntungan dengan lebih sering memberikannya bola.”

Sialnya bagi Martinez, sistem yang membuat Belgia bisa mencetak banyak gol ini masih juga menyisakan masalah kebocoran lini belakang seperti yang terjadi di Everton.

Dari empat tim yang kini berlaga di semifinal, Belgia punya catatan kebobolan paling banyak dengan lima gol, sementara tiga lainnya empat gol.

Catatan buruk ini paling kentara ketika Belgia berhadapan dengan Jepang di 16 Besar. Mereka dibuat ketar-ketir karena Samurai Biru unggul 2-0 terlebih dahulu. Beruntung lini depan mereka akhirnya bisa menjadi penyelamat dengan membalikkan keadaan dan menang di menit akhir.

Martinez sendiri menyadari ketidakseimbangan itu ketika menghadapi Brasil di perempat final. Ia membuang sistem 3-4-3 dan lalu menerapkan 4-3-3.

Poros Witsel-De Bruyne plus dua wingback pun kemudian dipecah dan digantikan oleh kehadiran Marouane Fellaini dan Naser Chadli. Untuk kali pertama, Belgia memilih keseimbangan dan kekokohan lini tengah. Pilihan yang terbukti sukses karena mereka berhasil menumbangkan sang juara dunia lima kali.

Dibantu Thierry Henry

Keberhasilan Belgia menembus semifinal sendiri tak bisa dialamatkan hanya pada Martinez, tapi pada jajaran staf kepelatihannya. Salah satunya adalah Thierry Henry.

Bukan persoalan taktik, kehadiran Henry membuat para pemain bintang Belgia tunduk dan tak berani bertingkah macam-macam.

Di bawah kepelatihan sebelumnya, Marc Wilmots, skuat Belgia memang acap kali terpecah belah. Wilmots sendiri tak punya cukup kepemimpinan untuk menyatukan ego para pemain bintang.

 

Media-media Belgia bahkan pernah mengabarkan bahwa Wilmots sering mengatakan pada para penggawanya bahwa ia dulu pernah memenangi Piala UEFA (kini Liga Europa) sebagai bentuk penegasan kemampuannya. Namun ucapannya itu hanya dipandang miring oleh para pemain yang sudah mencicipi gelar Liga Champions atau Liga Inggris.

“Penting bagi generasi ini dipimpin oleh seseorang yang telah memenangi lebih banyak gelar dari mereka,” ujar Eric Van Meir, mantan bek timnas yang kini telah menjadi pelatih.

Di sinilah kehadiran Henry menjadi penting. Ia membuat Martinez lebih bisa berkonsentrasi meracik taktik sementara sisi man-management diserahkan pada sang mantan pemain Arsenal.

Martinez pun cukup mau menurunkan egonya untuk menerima kehadiran Henry, sosok yang masih dipandang tinggi oleh para pemainnya.

Bersama Henry kini Martinez hanya membutuhkan satu kemenangan lagi untuk menorehkan prestasi tertinggi dalam sejarah sepak bola Belgia, yaitu membawa mereka ke final.

Mampukah mereka? (ptr)

 

Leave a Reply